Ketika Guru Bertemu AI: Menjadi Pengguna atau Menjadi Pendidik yang Lebih Berdaya?
Edisi #02 | Jumat, 18 September 2026
Dr. H. Rahmadani, S.Ag., M.Pd.I.
Ketua Bidang Penjaminan dan Pengembangan Mutu Pendidikan
Yayasan Citra Babur Rahman Madinatul Ilmi
Beberapa tahun lalu, ketika seorang guru hendak menyusun bahan ajar, ia membuka buku, mencari referensi, berdiskusi dengan rekan sejawat, lalu menyiapkan materi dengan waktu yang tidak sedikit. Hari ini, sebuah instruksi singkat kepada kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dapat menghasilkan rancangan pembelajaran, soal, rubrik, ringkasan materi, bahkan alternatif aktivitas kelas dalam hitungan detik.
Perubahan itu menimbulkan dua reaksi yang sama-sama mudah dipahami. Sebagian melihat AI sebagai peluang besar untuk meringankan pekerjaan guru. Sebagian lainnya khawatir: jika mesin semakin mampu menulis, menjelaskan, membuat soal, memberi umpan balik, dan mengolah informasi, lalu apa yang tersisa dari peran guru?
Pertanyaan tersebut penting, tetapi mungkin perlu dibalikkan. Persoalan utama bukan apakah AI akan mengambil pekerjaan guru. Persoalan yang lebih mendasar adalah: kompetensi apa yang harus semakin kuat dimiliki guru ketika sebagian pekerjaan teknisnya dapat dibantu oleh AI?
Di sinilah saya melihat satu tesis penting: AI tidak membuat peran guru menjadi kurang penting. Namun, AI mengubah kompetensi yang membuat seorang guru menjadi penting.
43,6 Persen GTK CMI Sedang Membaca Perubahan
Dalam Survei Pengembangan Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Yayasan Citra Babur Rahman Madinatul Ilmi (CMI), 68 dari 156 GTK atau 43,6% memilih AI dalam pendidikan sebagai salah satu kompetensi yang ingin mereka tingkatkan. AI menempati posisi kedua setelah Teknologi Pendidikan.
Angka tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa 43,6% GTK belum mampu menggunakan AI. Survei ini merekam kebutuhan atau aspirasi pengembangan. Namun justru di situlah maknanya: cukup banyak GTK CMI menyadari bahwa AI sedang menjadi bagian dari lanskap profesional pendidikan.
Kesadaran tersebut sejalan dengan perubahan yang terjadi secara lebih luas. OECD Digital Education Outlook 2026 mencatat bahwa 37% guru jenjang lower secondary dalam TALIS 2024 telah menggunakan AI untuk pekerjaannya, sementara 57% menilai AI membantu menulis atau memperbaiki rencana pembelajaran. Pada saat yang sama, 72% menilai AI dapat mengancam integritas akademik ketika peserta didik menyerahkan pekerjaan kepada AI seolah-olah sebagai pekerjaannya sendiri (OECD, 2026).
Data itu memperlihatkan paradoks AI dalam pendidikan: teknologi yang sama dapat menjadi alat penguatan pembelajaran sekaligus sumber persoalan baru. Karena itu, respons pendidikan tidak cukup berupa “menggunakan” atau “melarang”. Yang dibutuhkan adalah kapasitas untuk menggunakan AI secara tepat, kritis, etis, dan pedagogis.
Dari AI User Menuju AI-Empowered Educator
Menjadi pengguna AI relatif mudah. Seseorang dapat membuka aplikasi, menuliskan prompt, kemudian menerima hasilnya. Tetapi menjadi pendidik yang berdaya dengan AI membutuhkan kompetensi yang jauh lebih tinggi.
Guru yang meminta AI membuat sepuluh soal sedang menggunakan AI. Guru yang mampu menilai apakah soal tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran, tingkat perkembangan peserta didik, konteks kelas, dan prinsip asesmen sedang menggunakan kompetensi profesionalnya. Guru yang mengetahui kapan AI membantu pembelajaran dan kapan AI justru harus disingkirkan sedang menjalankan kebijaksanaan pedagogisnya.
Perbedaannya terletak pada agency. Guru tetap menjadi pihak yang menetapkan tujuan, memeriksa kualitas, mempertimbangkan konteks, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap proses pendidikan.
OECD (2026) mengingatkan bahwa keberhasilan menyelesaikan tugas dengan GenAI tidak otomatis menghasilkan pembelajaran. Ketika tugas hanya dialihkan kepada mesin tanpa prinsip pedagogis yang jelas, performa mungkin meningkat, tetapi proses belajar yang sesungguhnya belum tentu terjadi. Karena itu, AI seharusnya memperbesar kapasitas guru dan peserta didik, bukan menggantikan upaya kognitif yang justru perlu mereka bangun.
Lima Kompetensi AI yang Perlu Dimiliki Guru
UNESCO melalui AI Competency Framework for Teachers menawarkan kerangka yang sangat relevan untuk membaca persoalan ini. Miao dan Cukurova (2024) merumuskan 15 kompetensi dalam lima dimensi yang berkembang melalui tiga tingkat: Acquire, Deepen, dan Create.
Pertama, human-centred mindset. Guru harus memastikan bahwa manusia tetap memiliki kendali, tanggung jawab, dan tujuan dalam penggunaan AI. Teknologi harus melayani pendidikan, bukan pendidikan yang tunduk pada logika teknologi.
Kedua, ethics of AI. Guru perlu memahami privasi data, bias, transparansi, keamanan, hak cipta, keadilan, dan konsekuensi sosial penggunaan AI. Kemampuan menghasilkan konten dengan AI tidak otomatis berarti konten tersebut aman atau layak digunakan.
Ketiga, AI foundations and applications. Guru perlu memahami secara memadai apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh AI. Ini termasuk kesadaran bahwa keluaran AI dapat terdengar sangat meyakinkan tetapi tetap keliru, tidak lengkap, bias, atau tidak sesuai konteks.
Keempat, AI pedagogy. Inilah wilayah yang membedakan sekadar pengguna teknologi dari pendidik profesional. Pertanyaannya bukan “aplikasi AI apa yang sedang populer?”, melainkan “untuk tujuan belajar apa AI digunakan, dan apa nilai tambah pedagogisnya?”
Kelima, AI for professional learning. AI dapat membantu guru mencari strategi alternatif, memperoleh ide, merefleksikan praktik, menyederhanakan informasi, dan mendukung pembelajaran profesional sepanjang hayat. Tetapi keputusan profesional tetap harus berada pada guru.
Lima dimensi tersebut memperlihatkan bahwa kompetensi AI guru bukan kompetensi teknis semata. Ia merupakan kombinasi antara literasi teknologi, etika, pedagogi, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab profesional.
Peluang, Keterbatasan, dan Tanggung Jawab
Percakapan tentang AI sering terjebak pada dua kutub: terlalu optimistis atau terlalu takut. Pendekatan yang lebih sehat adalah memahami tiga hal sekaligus: peluang, keterbatasan, dan tanggung jawab.
Dari sisi peluang, AI dapat membantu guru melakukan brainstorming, menyusun alternatif rancangan pembelajaran, menyesuaikan tingkat kesulitan materi, membuat contoh, mengembangkan pertanyaan, menyiapkan rubrik, merangkum informasi, dan mengurangi sebagian beban administratif. Digunakan secara tepat, waktu yang dihemat dapat dikembalikan kepada aktivitas yang bernilai lebih tinggi: berinteraksi dengan peserta didik, memberikan umpan balik, melakukan refleksi, dan merancang pengalaman belajar.
Tetapi AI memiliki keterbatasan. Sistem generatif dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat, bias, atau seolah-olah faktual, padahal tidak memiliki dasar yang memadai. Ia tidak mengenal seorang anak sebagaimana guru mengenalnya melalui interaksi yang berlangsung dari hari ke hari. Ia tidak memikul tanggung jawab moral atas keputusan pendidikan.
UNESCO (Miao & Holmes, 2023) karena itu menempatkan pendekatan human-centred sebagai fondasi penggunaan GenAI dalam pendidikan. Perlindungan privasi, validasi etis, kesesuaian usia, serta desain pedagogis harus menjadi bagian dari penggunaan teknologi. Pedoman etika AI dan data untuk pendidik yang diperbarui oleh European Commission pada 2026 juga menekankan perlunya literasi AI yang kritis dan etis bagi guru dan tenaga pendidikan.
Maka, semakin mudah AI digunakan, semakin penting kemampuan manusia untuk memeriksa, mempertanyakan, memilih, dan bertanggung jawab.
Ada Hal yang Tidak Semestinya Kita Serahkan kepada Mesin
AI dapat menghasilkan kalimat empatik, tetapi tidak mengalami empati. AI dapat menyusun pesan motivasi, tetapi tidak memiliki relasi dengan seorang anak. AI dapat merekomendasikan strategi, tetapi tidak hadir ketika peserta didik sedang kehilangan kepercayaan diri, mengalami konflik dengan temannya, atau membutuhkan seseorang yang benar-benar mendengarkan.
Di ruang kelas, guru membaca hal-hal yang sering tidak muncul di dalam data: tatapan yang berubah, anak yang mendadak diam, antusiasme yang muncul, kebingungan yang belum terucapkan, atau suasana kelas yang membutuhkan perubahan pendekatan. Semua itu merupakan bagian dari kerja pedagogis yang sangat manusiawi.
Karena itu, masa depan pendidikan bukan kompetisi antara guru dan AI. Masa depan pendidikan lebih mungkin ditentukan oleh kualitas kolaborasi antara manusia dan teknologi, dengan manusia tetap memegang tujuan dan tanggung jawab.
Semakin cerdas mesin, justru semakin penting kemampuan guru yang sangat manusiawi: empati, pertimbangan etis, kreativitas, komunikasi, keteladanan, kemampuan membangun relasi, dan kebijaksanaan mengambil keputusan.
Apa artinya bagi Pengembangan GTK CMI?
Temuan bahwa 43,6% GTK memilih AI dalam pendidikan memberikan arah yang cukup jelas bagi pengembangan kompetensi di CMI. Namun, tindak lanjutnya sebaiknya tidak berhenti pada pelatihan “cara menggunakan aplikasi AI”.
Pengembangan kompetensi AI GTK perlu dirancang secara bertahap. Tahap awal dapat memperkuat literasi dasar: memahami cara kerja AI generatif, teknik berinteraksi dengan sistem, verifikasi keluaran, privasi data, bias, hak cipta, dan etika. Tahap berikutnya masuk ke AI pedagogy: merancang pembelajaran, asesmen, diferensiasi, bahan ajar, dan refleksi profesional dengan bantuan AI. Tahap yang lebih matang adalah kemampuan mengevaluasi kapan AI memberi nilai tambah dan kapan penggunaannya justru mengurangi kualitas belajar.
Dengan demikian, indikator keberhasilan pengembangan kompetensi (Bangkom) AI bukan “berapa banyak guru sudah memakai AI”, melainkan “apakah penggunaan AI membuat praktik profesional dan pengalaman belajar menjadi lebih baik”.
Kita juga perlu menghindari kesenjangan baru. GTK yang sudah lebih dahulu menguasai AI dapat menjadi penggerak pembelajaran sejawat. Praktik baik dapat didokumentasikan dan dibagikan. Kesalahan penggunaan juga perlu menjadi bahan belajar bersama. Dengan cara itu, pengembangan AI menjadi bagian dari budaya belajar organisasi, bukan hanya tren teknologi.
Guru Tidak Sedang Kehilangan Peran, Perannya Sedang Berubah
Ketika kalkulator hadir, matematika tidak kehilangan makna. Ketika mesin pencari hadir, pengetahuan tidak menjadi tidak penting. Kini ketika AI generatif hadir, profesi guru juga tidak otomatis kehilangan relevansi.
Yang berubah adalah nilai dari beberapa jenis pekerjaan. Pekerjaan rutin dan generatif tertentu semakin mudah dibantu teknologi. Sebaliknya, kemampuan untuk merumuskan masalah, memverifikasi informasi, membuat pertimbangan, memahami konteks, membangun relasi, mendesain pengalaman belajar, dan mengambil keputusan etis menjadi semakin bernilai.
Karena itu, tantangan bagi guru bukan berlomba dengan AI dalam menghasilkan teks lebih cepat. Perlombaan itu tidak perlu. Tantangannya adalah menggunakan AI untuk membebaskan lebih banyak energi bagi pekerjaan yang hanya dapat memperoleh makna penuh melalui kehadiran seorang pendidik.
AI dapat membantu guru bekerja lebih cepat. Tetapi hanya guru yang dapat menentukan untuk apa kecepatan itu digunakan.
AI dapat memberikan banyak jawaban. Tetapi guru membantu peserta didik belajar mengajukan pertanyaan yang tepat.
AI dapat menghasilkan konten. Tetapi guru membangun manusia.
Pertanyaan Jumat Mutu
Jika AI semakin mampu melakukan banyak pekerjaan yang selama ini dilakukan guru, kompetensi apa yang justru harus semakin kuat dimiliki seorang guru?
Mungkin jawaban kita akan berbeda-beda. Tetapi satu hal tampaknya semakin jelas: semakin cerdas teknologinya, semakin penting kapasitas manusia yang menggunakannya.
Masa depan pendidikan bukan tentang memilih antara manusia dan AI. Masa depan pendidikan adalah memastikan AI memperkuat kemampuan manusia untuk mendidik dengan lebih baik.
Referensi
Miao, F., & Cukurova, M. (2024). AI competency framework for teachers. UNESCO. https://doi.org/10.54675/ZJTE2084
Miao, F., & Holmes, W. (2023). Guidance for generative AI in education and research. UNESCO.
OECD. (2026). OECD Digital Education Outlook 2026: Exploring effective uses of generative AI in education. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/062a7394-en
European Commission. (2026). Guidelines on the ethical use of artificial intelligence and data in teaching and learning. European Education Area.
JUM’AT MUTU
Membaca Data • Merefleksikan Praktik • Menumbuhkan Mutu