Dari Data Menuju Budaya Mutu: Membaca Arah Pengembangan Kompetensi GTK CMI
JUM’AT MUTU
Membaca Data • Merefleksikan Praktik • Menumbuhkan Mutu
Edisi #01 | Jumat, 11 September 2026
Dari Data Menuju Budaya Mutu:
Membaca Arah Pengembangan Kompetensi GTK CMI
Dr. H. Rahmadani, S.Ag., M.Pd.I.
Ketua Bidang Penjaminan dan Pengembangan Mutu Pendidikan
Yayasan Citra Babur Rahman Madinatul Ilmi
Ada satu pertanyaan sederhana yang sesungguhnya sangat menentukan masa depan sebuah lembaga pendidikan: bagaimana kita mengetahui bahwa guru dan tenaga kependidikan kita sedang bertumbuh?
Apakah cukup dengan melihat jumlah pelatihan yang telah diikuti, sertifikat yang dikumpulkan, masa kerja yang semakin panjang, atau kemampuan menggunakan berbagai aplikasi digital? Semua itu penting. Namun, pengembangan sumber daya manusia tidak seharusnya dimulai dari asumsi tentang kebutuhan guru dan tenaga kependidikan. Ia semestinya dimulai dari data.
Kesadaran itulah yang mendorong Yayasan Citra Babur Rahman Madinatul Ilmi (YBRCMI) melakukan survei pengembangan kompetensi guru dan tenaga kependidikan (GTK). Sebanyak 156 GTK dari berbagai satuan pendidikan di lingkungan yayasan berpartisipasi untuk memberikan informasi tentang profil kompetensi, pengalaman pengembangan profesional, keterampilan digital, serta kompetensi yang ingin mereka tingkatkan. Data tersebut bukan hanya kumpulan angka. Di balik setiap jawaban terdapat pengalaman, kebutuhan, harapan, dan kesiapan untuk berkembang.
Pertanyaannya kemudian: apa yang sedang disampaikan oleh 156 GTK CMI kepada kita?
Modal SDM yang Perlu Terus Ditumbuhkan
Survei menunjukkan bahwa 66,7% GTK berpendidikan S1 dan 15,4% berpendidikan S2. Dari sisi pengalaman kerja, kelompok terbesar berada pada masa kerja 4–7 tahun (38,5%), disusul oleh kelompok dengan masa kerja 1–3 tahun sebesar 28,2%. Komposisi tersebut merupakan modal penting bagi organisasi pendidikan.
Namun, pendidikan formal dan masa kerja tidak otomatis menjamin bahwa kompetensi seseorang akan selalu relevan. Perubahan teknologi, karakteristik murid/santri, tuntutan orang tua, perkembangan kurikulum, penggunaan kecerdasan artifisial, dan perubahan tata kelola pendidikan membuat kompetensi yang dibutuhkan hari ini dapat berbeda dengan kompetensi yang dibutuhkan beberapa tahun lalu.
Dalam perspektif human capital, investasi pada pengetahuan dan keterampilan meningkatkan kapasitas manusia untuk menghasilkan nilai. Dalam konteks sekolah, investasi itu memperoleh makna yang lebih konkret: pengembangan GTK adalah investasi pada mutu pembelajaran dan layanan pendidikan. OECD (2019) juga menempatkan guru dan pemimpin sekolah sebagai pembelajar sepanjang hayat, sehingga pengembangan profesional perlu berlangsung sepanjang karier, bukan hanya pada fase awal profesi.
Sekolah yang ingin terus bertumbuh harus memiliki guru yang terus belajar. Yayasan yang ingin membangun mutu harus menciptakan lingkungan yang memungkinkan seluruh SDM-nya terus berkembang.
Ketika 50 Persen GTK Berkata: “Cukup”
Salah satu temuan yang menarik adalah bagaimana GTK menilai tingkat penguasaan kompetensinya. Sebanyak 78 dari 156 responden atau tepat 50% menilai penguasaan kompetensinya berada pada kategori “Cukup”. Sementara itu, 68 responden menyatakan “Menguasai”, lima responden “Sangat Menguasai”, dan lima responden lainnya “Tidak Menguasai”.
Angka 50% tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Ia tidak serta-merta menunjukkan bahwa kompetensi GTK CMI rendah karena penilaian tersebut bersifat persepsi diri. Namun, dari perspektif pengembangan SDM, kesadaran bahwa kompetensi masih memiliki ruang untuk ditingkatkan justru dapat menjadi modal belajar.
Senge (2006) melalui gagasan learning organization menekankan pentingnya organisasi membangun kapasitas untuk terus belajar, melihat keterkaitan antarsistem, membangun visi bersama, dan mengembangkan pembelajaran kolektif. Dengan cara pandang ini, pertanyaan kita berubah: bukan “siapa yang belum kompeten?”, melainkan “kompetensi apa yang perlu kita tumbuhkan bersama?”
Perubahan pertanyaan tersebut penting. Pengembangan SDM seharusnya tidak dibangun dengan paradigma mencari kekurangan, tetapi dengan paradigma menumbuhkan kapasitas.
Teknologi Pendidikan dan AI Mengirim Pesan yang Kuat
Ketika GTK diminta memilih kompetensi yang ingin ditingkatkan, muncul pola yang sangat menarik. Teknologi Pendidikan dipilih oleh 85 responden (54,5%), menjadi kebutuhan pengembangan yang paling banyak dipilih. Setelah itu, terdapat AI dalam pendidikan sebanyak 68 responden (43,6%), kemudian Public Speaking sebanyak 65 responden (41,7%). Berikutnya adalah Kepemimpinan 28,8%, Manajemen Administrasi 23,7%, Penelitian Tindakan Kelas 15,4%, Penyusunan Kurikulum 10,9%, Microsoft Office 10,3%, dan Power BI 3,8%.
Perlu ditegaskan bahwa angka tersebut merupakan pilihan kebutuhan pengembangan, bukan ukuran langsung bahwa GTK tidak menguasai kompetensi tersebut. Justru data ini menunjukkan adanya kesadaran terhadap perubahan lingkungan pendidikan.
UNESCO (Miao & Cukurova, 2024) menegaskan bahwa kompetensi AI guru tidak cukup berhenti pada keterampilan menggunakan alat. Kerangkanya mencakup lima dimensi: pola pikir berpusat pada manusia, etika AI, fondasi dan aplikasi AI, pedagogi AI, serta AI untuk pembelajaran profesional. UNESCO (Miao & Holmes, 2023) juga mengingatkan bahwa pengembangan dan penggunaan AI generatif dalam pendidikan perlu menjaga human agency dan menempatkan kapasitas manusia sebagai faktor penentu.
Karena itu, agenda pengembangan kompetensi digital GTK CMI perlu bergerak dari hanya digital literacy menuju digital pedagogy, kemudian berkembang menuju kemampuan menggunakan data dan AI secara kritis, kreatif, etis, dan bertanggung jawab.
Dari Digital User Menuju Digital Educator
Modal awalnya sebenarnya sudah cukup baik. Survei menunjukkan Microsoft Word digunakan/dikuasai oleh 137 responden, Excel oleh 110 responden, Canva oleh 108 responden, dan PowerPoint oleh 100 responden. Artinya, keterampilan digital dasar telah cukup luas di lingkungan GTK.
Namun, tantangan berikutnya bukan lagi hanya mampu menggunakan perangkat lunak. GTK perlu bergerak dari posisi sebagai digital user menuju digital educator.
Kerangka DigCompEdu dari European Commission Joint Research Centre menjelaskan bahwa kompetensi digital pendidik mencakup lebih dari keterampilan teknis. Kompetensi tersebut meliputi keterlibatan profesional, pengelolaan sumber daya digital, pembelajaran dan pengajaran, asesmen, pemberdayaan murid/santri, serta fasilitasi kompetensi digital murid/santri (Redecker, 2017).
Dengan demikian, seorang digital educator bukan sekadar mengetahui cara menggunakan aplikasi. Ia mampu memilih teknologi berdasarkan tujuan pembelajaran, mengembangkan materi secara kreatif, menggunakan asesmen dan data secara tepat, memanfaatkan AI secara bertanggung jawab, serta memahami kapan teknologi diperlukan dan kapan interaksi manusia justru jauh lebih penting. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi pendidikan tetap merupakan proses memanusiakan manusia.
GTK Menginginkan Pembelajaran yang Praktis
Temuan lain memberikan pesan yang sangat konkret kepada pengelola pengembangan SDM. Ketika ditanya mengenai bentuk kegiatan pengembangan kompetensi yang diinginkan, workshop memperoleh 102 pilihan, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sertifikasi, seminar, coaching, webinar, dan magang.
Pilihan tersebut menunjukkan kecenderungan GTK terhadap proses pengembangan yang praktis dan aplikatif. Temuan ini sejalan dengan kajian Darling-Hammond, Hyler, dan Gardner (2017) yang menemukan bahwa pengembangan profesional guru yang efektif antara lain berfokus pada konten, menggunakan active learning, mendukung kolaborasi, menyediakan model praktik yang efektif, coaching atau dukungan ahli, umpan balik dan refleksi, serta berlangsung secara berkelanjutan.
Ukuran keberhasilan pengembangan SDM bukan berapa banyak kegiatan yang berhasil dilaksanakan, melainkan apa yang berubah setelah kegiatan tersebut selesai: apakah praktik pembelajaran berubah, pelayanan meningkat, guru lebih percaya diri, dan teknologi benar-benar digunakan untuk memperbaiki proses pendidikan. Di sinilah orientasi pengembangan profesional bergerak dari activity-based menuju impact-based professional development.
Kita Memiliki Calon Penggerak dari Dalam
Sebanyak 33 GTK atau 21,2% responden menyatakan bersedia menjadi narasumber internal. Mungkin jumlah tersebut tampak tidak terlalu besar. Namun, jika 33 orang ini dipetakan berdasarkan keahlian, pengalaman, sertifikasi, dan praktik baik yang dimilikinya, kita sebenarnya sedang melihat embrio Talent Pool GTK CMI.
Guru yang memiliki keahlian tertentu dapat berbagi dengan guru lainnya. Tenaga kependidikan yang memiliki praktik pelayanan terbaik dapat melatih rekan kerjanya. Unit yang berhasil mengembangkan sebuah inovasi dapat menjadi tempat belajar bagi unit lainnya.
Pendekatan ini konsisten dengan gagasan organisasi pembelajar: pengetahuan tidak hanya datang dari luar, tetapi tumbuh, beredar, diuji, dan diperbaiki di dalam organisasi. Pada saat tertentu, seorang GTK bukan hanya peserta belajar, melainkan juga sumber belajar bagi rekan-rekannya.
Survei Tidak Boleh Berakhir Menjadi Grafik
Tantangan terbesar setelah sebuah survei selesai justru dimulai ketika seluruh grafik telah dibuat. Apa yang akan kita lakukan dengan data tersebut?
Data yang hanya disimpan akan menjadi arsip. Data yang hanya dipresentasikan akan menjadi informasi. Tetapi data yang digunakan untuk mengambil keputusan dapat menjadi instrumen perubahan.
Ke depan, setiap GTK idealnya memiliki profil pengembangan kompetensi: kompetensi yang telah dimiliki, kompetensi yang perlu ditingkatkan, pelatihan yang pernah diikuti, rencana pengembangan berikutnya, dan progresnya dari waktu ke waktu. Dengan sistem semacam ini, keputusan pelatihan tidak lagi terutama berangkat dari pertanyaan “pelatihan apa yang sedang tersedia?”, melainkan “kompetensi apa yang memang sedang dibutuhkan?”
Dari Quality Assurance Menuju Quality Culture
Penjaminan mutu sering dipahami sebagai instrumen, standar, evaluasi, laporan, atau dokumen. Semua itu diperlukan. Tetapi tujuan tertinggi penjaminan mutu bukanlah semakin banyak dokumen. Tujuannya adalah terbentuknya budaya mutu.
Budaya mutu tumbuh ketika guru belajar bukan semata-mata karena diwajibkan mengikuti pelatihan, tetapi karena menyadari bahwa dirinya perlu terus berkembang. Budaya mutu tumbuh ketika tenaga kependidikan memberikan pelayanan terbaik, bukan karena sedang dinilai, tetapi karena profesionalitas telah menjadi kebiasaan. Budaya mutu tumbuh ketika pimpinan tidak hanya meminta data, tetapi juga menggunakan data untuk mengambil keputusan.
Data Memberi Arah, Manusia Menggerakkan Perubahan
Pada akhirnya, teknologi pendidikan, AI, public speaking, kepemimpinan, administrasi, dan berbagai kompetensi lainnya hanyalah bagian dari tujuan yang lebih besar.
Tujuan kita bukan hanya memiliki guru yang semakin mahir menggunakan teknologi. Kita ingin memiliki GTK yang terus belajar, adaptif menghadapi perubahan, profesional dalam bekerja, mampu berkolaborasi, terbuka terhadap inovasi, dan tetap menghadirkan nilai kemanusiaan dalam setiap proses pendidikan.
Data membantu kita melihat kebutuhan. Teori membantu kita memahami maknanya. Pengalaman lapangan membantu kita menentukan apa yang realistis untuk dilakukan. Namun, manusia tetap menjadi penggerak utama perubahan.
Maka, hasil survei ini sebaiknya tidak kita baca sebagai daftar kekurangan. Mari membacanya sebagai peta jalan pertumbuhan. Sebab mutu pendidikan tidak lahir dalam satu workshop, satu rapat, atau satu program. Mutu tumbuh ketika belajar dan memperbaiki diri menjadi kebiasaan bersama.
Data memberi kita arah.
Pengembangan kompetensi membuka jalan.
Dan budaya mutu memastikan kita terus berjalan.
Referensi:
Darling-Hammond, L., Hyler, M. E., & Gardner, M. (2017). Effective teacher professional development. Learning Policy Institute. https://doi.org/10.54300/122.311
Miao, F., & Cukurova, M. (2024). AI competency framework for teachers. UNESCO. https://doi.org/10.54675/ZJTE2084
Miao, F., & Holmes, W. (2023). Guidance for generative AI in education and research. UNESCO.
OECD. (2019). TALIS 2018 results (Volume I): Teachers and school leaders as lifelong learners. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/1d0bc92a-en
Redecker, C. (2017). European framework for the digital competence of educators: DigCompEdu (Y. Punie, Ed.). Publications Office of the European Union. https://doi.org/10.2760/159770
Senge, P. M. (2006). The fifth discipline: The art & practice of the learning organization (Rev. ed.). Currency/Doubleday.
JUM’AT MUTU
Membaca Data • Merefleksikan Praktik • Menumbuhkan Mutu